Jumat, 02 Desember 2011

Galah Asin


Latar Belakang Permainan Tradisional

        Dalam pelaksanaan permainan tradisional, hampir tidak pernah ditemukan sikap protes, melanggar aturan yang disepakati, dan sakit hati di antara pihak-pihak yang bermain. Maka, tidak mengherankan, jenis permainan ini begitu banyak peminatnya. Permainan tradisional memiliki karakteristik tersendiri yang dapat membedakannya dengan jenis permainan lain. Pertama, permainan itu cenderung menggunakan atau memanfaatkan alat atau fasilitas di lingkungan kita tanpa harus membelinya.
Kedua, permainan tradisional dominan melibatkan pemain yang relatif banyak atau berorientasi komunal. Tidak mengherankan, kalau kita lihat, hampir setiap permainan rakyat begitu banyak anggotanya. Sebab, selain mendahulukan faktor kegembiraan bersama, permainan ini juga mempunyai maksud lebih pada pendalaman kemampuan interaksi antarpemain (potensi interpersonal).
Ketiga, permainan tradisional menilik nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu. beberapa permainan tradisional tidak sekadar menghilangkan stres anak atau membuat fokus dalam pelajaran, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, sikap lapang dada (kalau kalah), dorongan berprestasi, dan taat pada aturan. Semua itu didapatkan kalau si pemain benar-benar menghayati, menikmati, dan mengerti sari dari permainan tersebut.
Menurut Hamzuri dan Tiarma Rita Siregar dalam bukunya, Permainan Tradisional Indonesia, permainan tradisional memiliki ragam bentuk dan variasi yang begitu banyak. Setidaknya ada 750 macam permainan tradisional di Indonesia, dan banyak yang belum terinventarisasi. Hal ini mengidentifikasikan bahwa permainan tradisional Indonesia sangat melimpah.
Namun sayang, dari sekian banyak permainan tradisional tersebut, sekarang ini keberadaan sebagian di antaranya sangat sulit ditelusuri dan dilacak, atau bisa dikatakan terancam punah. Hal ini disebabkan antara lain oleh pergeseran zaman. Si pengguna mainan tradisional, terutama anak-anak kita, sudah jarang memainkannya.
Misalnya bermain petak umpet atau kelereng. Mereka lebih senang dan tertarik menyendiri dan mengunci kamarnya sambil asyik memijit-mijit tombol stik playstation, yang tidak pernah mengajarkan nilai kepedulian sosial.
      Manfaat dari permainan tradisional adalah :
a.Mengembangkan kecerdasan intelektual anak
b.   Mengembangkan kecerdasan emosi dan antar personal anak
c.   Mengembangkan kecerdasan logika anak
d.   Mengembangkan kecerdasan spiritual anak
-          Dalam permainan tradisional mengenal konsep menang dan kalah.
-          Dapat di mainkan oleh semua umur (tidak mengenal batas usia)
-          Tidak ada yang paling unggul. Karena setiap orang memiliki kelebihan masing-masing.
Salah satu contoh permainan tradisional yang akan kita bahas adalah Galah Asin.       
Mengenalkan Anak Bermain Permainan Tradisional
Coba sebutkan permainann yang Anda senangi di masa Anda kecil dulu? Congklak, galasin, bola bekel, lompat karet, petak umpet, ABC Pancasila, dan beragam permainan lain tentunya masih ada dalam ingatan Anda. Kini, coba perhatikan permainan yang mendominasi putra putri Anda. Video games, Ipad, Ipod, laptop/komputer? Itulah perkembangan jaman. Adanya kemajuan informasi dan teknologi merambah ke semua aspek kehidupan, juga termasuk di dalamnya pola permainan anak Anda! Mungkin kalaupun anak Anda tidak termasuk akrab dengan permainan “masa kini” yang disebutkan di atas, minimal Anda dan buah hati Anda sering melihat atau mendengar cerita betapa maraknya teknologi tersebut mewarnai keseharian anak-anak.
Faktor kecanggihan, praktis dibawa kemana saja dan juga terdapat unsur menghibur untuk tujuan mendidik yang menyebabkan permainan dalam basis teknologi ini menjadi pilihan beberapa orangtua saat ini. Bahkan di kesempatan orangtua tidak dapat meluangkan waktu sepenuhnya bagi anak, teknologi-lah yang menggantikan kehadirannya agar si anak cukup sibuk dan bisa mengisi waktu luangnya. Contoh, pernahkah Anda menjumpai anak yang bermain Ipad saat sedang menunggu bersama orangtua? Atau, anak bermain games di mobil sementara ayah dan ibunya asik berbincang? Atau bisa jadi Anda termasuk contoh yang disebut?
Sekarang mari kilas balik pada permainan tradisional, dan menilik manfaat di dalamnya jika dibandingkan dengan permainan teknologi yang kini marak:
  1. Bentuk permainan tradisional banyak melibatkan seluruh fisik. Sedangkan permainan berbasis teknologi sebagian besar dilakukan dalam keadaan duduk. Artinya, dari segi olah fisik, permainan tradisional memberikan banyak peluang anak untuk lebih aktif bergerak secara dinamis.
  2. Permainan tradisional memungkinkan seluruh indera tubuh bekerja, sedangkan dalam permainan “masa kini”, tidak mungkin semua bekerja karena sudah ada bantuan dari teknologi itu sendiri. Contoh dalam permainan ABC Pancasila, anak bernyanyi dan menggerakkan tubuh sambil memproses jawaban yang akan diutarakan pada kelompok bermainnya.
  3. Umumnya permainan tradisonal menuntut lebih dari 1 pemain yang terlibat di dalamnya. Hal ini membuka peluang bagi anak untuk belajar bersosialisasi, berbagi, toleransi dan bekerjasama. Sedangkan permainan teknologi kini sebagian besar bisa dimainkan seorang diri saja.
  4. Karena dimainkan lebih dari 1 orang tersebut, maka dalam permainan tradisional terdapat unsur saling berkomunikasi. Sedangkan dalam games berteknologi canggih, kesempatan komunikasi sangat terbatas bahkan hampir tidak ada karena yang dihadapi alat. Dengan kata lain, bermain tradisional memberi kesempatan anak lebih banyak untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, mendengarkan pesan dan menyampampaikan apa yang dirasakan/inginkan.
  5. Permainan tradisional memungkinkan modifikasi aturan sesuai kesepakatan pemainnya, sedangkan permainan berteknologi seluruh aturan sudah paten dari alat yang tersedia dan tidak bisa diubah. Artinya, dalam bermain tradisional kreativitas dapat dikembangkan seluas-luasnya. Misalnya saat bermain kelereng, siapa yang mendapat warna merah, ia punya kesempatan lebih dulu untuk memulai permainan, dan sebagainya.

Nah orangtua, ngga ada ruginya memperkenalkan anak kembali pada permainan Anda masa kecil. Bukan berarti anti teknologi dan meninggalkannya sama sekali. Tidak dipungkiri, adanya teknologi pun banyak memberikan manfaat jika digunakan sesuai porsinya. Ibarat pisau yang memiliki banyak fungsi saat memasak di dapur, bekerja di kebun dan sebagainya, namun jika disalah gunakan justru bisa melumpuhkan/melukai karena ketajamannya. Cermatlah memilih permainan bagi anak Anda! Dan yang perlu diingat, masa kecil adalah usia emas mengeksplorasi dan pengembangan seluruh aspek kehidupannya!
                                                 
 Galah Asin
2.1    Pengertian Galah Asin
Galah asin atau Galasin atau Gobak Sodor adalah sebuah permainan tradisional yang di mainkan di luar ruangan (lapangan). Permainan ini berasal dari Indonesia. Permainan ini terdiri dari dua grup yaitu grup penyerang dan grup bertahan. Masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Salah seorang dari anggota grup itu akan ditunjuk sebagai ketua dan lainnya adalah sebagai anggota. Tugas ketua kelompok adalah sebagai mengawasi setiap penyerang yang masuk dan keluar dari lapangan, yaitu disepanjang garis awal, garis tengah dan garis disekeliling lapangan. Sedangkan anggota hanya menjaga garis melintang di dalam lapangan.
        Kenapa disebut Galah Asin? Menurut termologinya, permainan ini dilakukan dengan melalui pintu belakang ke depan selain itu, ada juga yang mengatakan Gobak Sodor di ambil dari bahasa Inggris ``Go Back Trough the Door`` yang artinya kembali melalui pintu.
        Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik. Untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

        Sebelum permainan dimulai dinilai dilakukan undian dengan koin oleh kedua ketua tim. Siapa yang menang akan menjadi tim penyerang. Penetapan penghitungan bertukar giliran akan ditentukan terlebih dahulu, apakah hanya dengan sentuhan ke badan para pemain atau dengan menangkap para pemain.

2.2 Lapangan permainan
Galah Panjang
Kawasan permainan yang cukup luas diperlukan, baik di atas tanah, kawasan bersimin dan di atas padang. Tidak ada ukuran khas penetapan yang harus diikuti, tetapi diperkirakan antara enam hingga delapan meter lebar dan jarak untuk setiap garis lintang lapangan antara tiga hingga empat meter. Jumlah garis lintang bagi anggota tidak terbatas atau menurut jumlah pemain bagi setiap tim.
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian.
Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur, tepung atau tali jika dimainkan di atas padang. Cat juga dapat digunakan jika lapangan Semen. Tetapi kebanyakan anak-anak akan mebuat garis tersebut di atas tanah.
Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal.
Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, mereka harus berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas.
Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.

                                  
2.3    Cara Bermain
  • Bermainlah Hom Pim Pah untuk memilih pemimpin.
  • Pemain-pemain Tim A berdiri di atas garis-garis masing-masing supaya pemain-pemain Tim B tidak dapat berlari dari garis pertama sampai garis terakhir dan kembali lagi.
  • Pemain-pemain Tim A harus berlari di atas garisnya kecuali pemimpinnya yang boleh berlari di atas semua garis.
  • Pemain Tim B berdiri di belakang garis pertama.
  • Galah asin dimulai dengan tangan kedua pemimpin saling menyentuh.
  • Kalau pemain Tim B kembali lagi ke garis pertama tanpa disentuh oleh pemain Tim A, Tim B mendapat satu gol.
  • Kalau pemain Tim B disentuh oleh pemain Tim A, giliran Tim B mati. Lalu giliran Tim A.
  • Teruskan permainan seperti semula.
  • Tim yang menang adalah Tim yang mendapatkan gol terbanyak

2.4    Peraturan Permainan
        Semua pemain tim penyerang akan dianggap mati jika salah seorang dari mereka disentuh oleh para pemain tim bertahan. Pemain tim penyerang tidak boleh mundur kebelakang setelah melewati garis lapangan, karena akan menyebabkan perubahan posisi di tim. Pasukan penyerang dianggap mati jika terdapat pemainnya keluar dari garis lapangan. Pasukan penyerang dianggap menang jika salah seorang dari pemainnya dapat melewati semua garis hingga kembali ke baris permulaan. Satu poin diberikan kepada tim ini dan Permainan akan dijalankan kembali. Pasukan yang dapat mengumpulkan poin tertinggi akan dihitung memenangkan Pertandingan tersebut.




1.         Manfaat Permainan
·    Meningkatkan kemampuan fisik
·    Melatih kemampuan membaca gerak tubuh atau gesture
·    Meningkatkan kemampuan komunikasi dan kemampuan menyusun strategi lebih baik.
·    Memiliki nilai spiritual yaitu Selain kebersamaan, kita juga bisa belajar kerja sama yang kompak antara satu penjaga dan penjaga lain agar lawan tidak lepas kendali untuk keluar dari kungkungan kita. Di pihak lain bagi penerobos yang piawai, disana masih banyak pintu-pintu yang terbuka apabila satu celah dirasa telah tertutup. Jangan putus asa apabila dirasa ada pintu satu yang dijaga, karena masih ada pintu lain yang siap menerima kedatangan kita, yang penting kita mau mau berusaha dan bertindak segera. Ingatlah bahwa peluang selalu ada, walaupun terkadang nilai probabilitasnya sedikit.

GALAH ASIN
Inti nya :
Permainan ini terdiri dari dua tim, dimana masing-masing tim terdiri dari 3 orang. Inti permainannya adalah mencegat lawan agar tidak bisa lolos ke baris terakhir. Biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis. Kalo udah maenan ini bisa sampe keringetan deh.

Keterangan:
Galah Asin atau di daerah lain disebut Galasin atau Gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.


Manfaat :

* Meningkatkan kemampuan fisik.
* Melatih kemampuan membaca gerak tubuh/gesture.
* Meningkatkan kemampuan komunikasi dan kemampuan menyusun strategi lebih baik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar